Penembakan dua pesawat militer AS oleh Iran menandai serangan yang sangat langka terhadap AS yang belum pernah terjadi selama lebih dari 20 tahun. Ini seakan menunjukkan Iran masih mampu membalas serangan. Meskipun Presiden Trump menyatakan kemampuan Iran telah hancur total. Kini Iran bahkan membuat sayembara di TV nasional untuk menemukan pilot AS tersebut. Akankah serangan Iran ini mengendorkan tekanan Amerika? Kita bahas bersama pakar politik dan keamanan nasional Wibawanto Nugroh Widodo, PhD
dan peneliti senior Indo Pacific Strategic Intelligence Aisyah Kusuma Sumantri. Selamat petang semuanya. Selamat petang. Saya ke Pak Wibawa dulu ya. Pak Wibawa kalau menurut Anda sebenarnya tembakan Iran ke zet Amerika Serikat ini bisa dibilang sebagai sebuah pukulan telak tidak ke AS setelah AS menghancurkan jembatan tertinggi Iran? Iya. Jadi gini Mbak ya. Jadi yang pertama itu Amerika itu dipersiapkan kekuatan militernya untuk menghadapi satu major theat war di China. Yang kedua untuk menghadapi perang ee yang
sifatnya eh mengcontain di Timur Tengah. Salah satunya adalah menghadapi eh nearpir regional ya bukan pir nearpir di slav regional itu Iran. Yang berikutnya adalah untuk menghadapi e Rusia dengan operasi deatrons. Nah, walaupun di tentara Amerika ini hadir di empat e wilayah dunia yang pertama adalah di Middle East, di Indo Pasific, di di Northern Command ya, dan juga di eh mana di di Timur Tengah Indo Pasifik dan Northern Comet ya itu mereka itu hadir untuk operasi-operasi terbatas gitu ya. Jadi dengan di Eropa juga hadir ya. Jadi
dengan adanya godaan masuk ke dalam perang di Iran ini, ini sangat ee apa mending resource dari Amerika sendiri apalagi tidak didukung oleh NATO. Nah, sekarang kita sudah masuk ke fase keempat. Fase pertama itu adalah strategic surprise minggu pertama. Fase kedua adalah eh superioritas militer, superioritas udara yang diikuti oleh penghancuran kekuatan militer atau counterforce strategi yang diterapkan oleh Amerika kepada militer Iran. Yang ketiga yang tidak diduga adalah retaliasi yang melibatkan proksi-proksi.
Dan sekarang sudah masuk ke dalam tahap keempat yaitu yang disebut dengan corsif end game process. Jadi Amerika memaksa selesai perang ini dengan cara corsif dan waktu yang diberikan oleh Washington itu adalah 2 minggu. Ya. Jadi di tahap ini ada dua kemungkinan yang terjadi, pe settlement atau eskalatif. Poin satu itu ya. Nah, yang poin kedua yang perlu kita garis bawahi yang dimiliki oleh eh Iran saat ini adalah satu, mereka masih mempunyai misil cadangan didukung dari belakang oleh Russia dan China dalam
dukungan space, satelet dan lain-lain. Karena memang space station-nya berbeda ya di Tianggong ya. Satu lagi kalau barat itu international space station. Yang kedua adalah yang namanya penyandraan Hormus. Yang ketiga adalah jaringan-jaringan proxi di region di luar Iran. Nah, ini yang digunakan oleh Iran dalam ee persiapan mereka selama 40 tahun terakhir terbukti berhasil dengan Mozaic defense ya, komando dilakukan secara desentralisasi. Outcome-nya adalah yang terjadi hari ini yang baru-baru saja.
Kejadian yang tidak pernah terjadi di mana pesawat tempur generasi 4 plus milik Amerika jatuh ditembak ya oleh actor state ya oleh state actor aktor negara ya. ini sebenarnya ditertawakan oleh ee Rusia dan China pastinya ya. Dan itu ya. Dan poin yang berikutnya ini menandakan bahwa ternyata apa yang disampaikan oleh Presiden Trump itu tidak terbukti sesuai dengan kenyataan bahwa ternyata air superiority dari eh Amerika itu bukannya tidak terkontestasi ternyata bisa bolong ya apalagi juga ditembak lagi dengan e adanya close air
support dari A10 yang mencoba melakukan comit rescue. Yang kedua asetri ini menang lagi. Yang ketiga ini adalah turning point psychologis ya. Dan ini saya konscern bisa menjadi eskalatif bukannya selesai. Nah, jadi ini merubah persepsi keadaan nih saat ini ya. Jadi presiden Trump semakin terpojok kalau menurut saya. Oke. Ya. Kalau ya itu poinnya. Oke. Dengan semakin terpojok itu kalau menurut Mbak Aisyah oke semakin terpojok ini sudah semakin mendekati tahap akhir. Apakah ini adalah faktor yang membuat
apa ya AS semakin gegabahkah sampai pesawat zat tempurnya bisa ditembak atau justru sebenarnya Iran memang mau membuktikan kalau punya teknologi yang menyamai AS. Ya, saya kira di sini kan kita lihat bahwa eh list eh pesawat yang kemudian ditembak ini ada e fighter jet F35 yang sebenarnya memiliki stealth ya, stealth capability dan sebelumnya tidak pernah tertembak. Lalu kemudian jet tempur F15 sama sebelumnya juga tidak pernah tertembak termasuk ini ada wholose air support dan kemudian black hole
helicopter dan ini merupakan pukulan telak sebenarnya untuk AS. Saya rasa di sini kita melihat bahwa sebenarnya kecanggihan teknologi ini tidak selalu sebenarnya unggul di medan tempur. Karena ada konteks-konteks yang kemudian dilihat Iran bahwa teknologi yang secanggih itu sebenarnya punya kelemahan di medan tempur. Yang pertama sebenarnya Iran ini memanfaatkan ee bukan dari segi radar karena pesawat-pesawat ini khususnya yang fighter dia memiliki kapasitas untuk bisa memantulkan dan menyerap radar. Jadi tidak terdeteksi
biasanya. Nah, yang kemudian dimanfaatkan oleh Iran ini justru adalah teknologi yang sangat sederhana yaitu adalah heat signature yang selama ini kan kita tahu bahwa itu merupakan sebuah teknologi basic di dalam medan perang. Tetapi ini bisa kemudian melawan ya teknologi modern yang nilainya hampir 100 juta dolar per fighter Jet F15 itu. Nah, sekarang kita lihat di sini ini signifikan karena pertama betul kata tadi Mas ee Wibowo bahwa ini adalah pertama kalinya pesawat AS ini ditembak jatuh secara ee ee secara langsung ya di
ee sejak perang ini berlangsung. Nah, pertama ini adalah sekarang ee Iran dan Amerika Serikat ini menghadapi sebuah perlombaan di antara kemudian tim search and rescue-nya ya, tim SAR-nya dan kemudian eh pemerintah dan masyarakat Iran dalam melakukan eh pencarian dari pilot tersebut. Ada satu kru tadi ya, western system officernya yang masih belum bisa ditemukan sampai sekarang. Dan ini apabila ditemukan oleh Iran sebenarnya ini bisa menjadi leverage dan bargain gaining position baru bagi Iran.
Nah, nah satu lagi kita lihat di sini masalah air superiity itu kan sebenarnya sesuatu yang sebenarnya harus ada sebelum kemudian Amerika Serikat ini bisa melakukan ground operations dari tipe apapun. Apakah itu yang besar yang kita tahu sepertinya ini mungkin tidak mungkin ya meskipun opsinya mereka bilang akan ada di atas meja ataupun bahkan yang kecil sekalipun seperti sekarang. Nah, kita lihat di sini Trump berkali-kali bilang bahwa dia punya uncontested airspace ya. Lalu kemudian their navy is gone, aircraft is gone.
Heet juga menyatakan begitu. Nah, tapi kita lihat bahwa sebenarnya harus dipahami yang namanya air superior itu bukan berarti mereka bisa terbang tanpa adanya hambatan. Ada, tetapi tetap ada resikonya meskipun itu kecil ya. Nah, klaim itu mungkin sekarang tetap ada bahwa Iran melakukan air superiornya di kawasan sana. Tetapi ketika kondisi ini dibiarkan secara terus-menerus, maka pada akhirnya korbannya akan terus bertambah dan kehilangannya. Oke, dengan posisi korban yang bisa semakin bertambah. Tapi Mbak Isya kalau
menurut Anda ee rangkaian serangan dilakukan oleh Iran kemudian sayembara juga selain meningkatkan daya tawar dari Iran, apakah ini bisa menekan AS atau justru semakin memprovokasi? Oke, Mbak Isya, kami akan coba lagi hubungi kalau begitu ke Pak Wibawa. Kalau rangkaian serangan ini ditambah tadi sayembara selain meningkatkan daya tawar, mampukah memberikan tekanan untuk AS atau justru makin memprovokasi Trump? Oh iya pasti. Jadi ini begini ya. Amerika itu menghadapi apa yang disebut dengan exist of resistance. Jadi yang
dihadapi Amerika itu dalam postur pertahanan Amerika adalah PIR. PIR itu Rasia dan China ya. Yang kedua adalah nirp regional North Korea dan juga Iran ya. Dan juga beberapa nonset actor termasuk proksi-proksinya Iran itu poinnya. He. Dan untuk menghadapi itu Amerika butuh NATO. Tanpa NATO itu kekurangan mins yang sangat signifikan. Itu poinn poin yang sangat penting itu. Nah, sekarang memang dengan jatuhnya pesawat Iran ini, pesawat Amerika ini, ini benar-benar pukulan telak dan ini bisa menjadi
leverage untuk eh diplomasi untuk bisa eh digunakan untuk mengubah outcome. Tapi kalau dari perspektif Amerika mungkin ada plan B dari ini. Plan B-nya apa? Plan B-nya mungkin mereka akan menyerang Balazukistan karena Balukistan ini adalah wilayah yang sudah lama bermasalah dengan pusat dan dekat dengan Pakistan. Mayoritas juga Suni. Dan rasnya adalah Pakistan. Dan bisa saja tentara darat Amerika sebentar lagi akan dideploy ke Balukistan, diganggu di Balukistan sambil menghancurkan beberapa e misile stok yang ada di situ dan itu
akan menjadi leverage baik dari Amerika dengan Iran. Ya, itu pertama tolong ee bebas apa buka kembali hormus ya. Kami kembalikan Balukistan kepada Anda ya dan juga lepaskan Sandra kita. Kira-kira gampangnya begitu. Jadi ini yang saya bilang bisa menjadi eskalatif karena Trump ini sebenarnya kalau ada dua pilihan ya. Yang pertama adalah berhenti sekarang ya. Berhenti sekarang dan mencari p settlement di mana ujung-ujungnya karena untuk regim change Mbak itu harus rakyat yang memilih gitu tidak bisa dipaksa. tahun 53 saja Mosadek
sebagai prime minister bisa jatuh. Itu operasi intelijen yang harus didukung oleh organ dalam gitu. Jadi kalau mengharapkan rezim ch dalam waktu 2 minggu is nearly impossible. Nah, tapi kalau gitu Pak Wibawa kalau misalnya masing-masing negara posisinya menaikkan leverage mereka, endingnya seperti apa? Posisi situasi seperti apa yang bisa memaksa mereka mentingan perang? Tapi jangan dijawab dulu. Kita akan bahas lagi. Usai jeda tetap bersama kami di Kompas petang. Kami lanjutkan lagi dialognya sambil
mencoba masih menghubungi Mbak Aisyah. Kita lanjut kita lanjutkan dulu Pak Wibawa. Pak Wibawa di waktu yang sama Iran menyelenggarakan sayembara bagi warga yang bisa menemukan pilot AS yang masih hilang dapat hadiah. Ini sebenarnya Iran lagi ngapain? Lagi manas-manasin AS kah atau lagi provokasi atau apa yang dilakukan? Kalau Iran, Iran itu mod-nya adalah survive, Mbak ya, survive dan dengan strategic attrition. Jadi, Iran itu selama 2 minggu ke depan adalah menunda kemenangan Amerika. Dan Iran itu
terbukti sistem pertahanan udaranya itu belum cukup diuppress. Amerika tuh punya sistem suppress air defense system dan juga destruction of air defense system enemy. Tapi itu ternyata belum terbukti kan baik itu dengan manpat dengan portable atau dengan infrared atau dengan deteksi ee panas yang keluar dari pesawat tempur apapun itu namanya berarti yang namanya eh air supority Amerika itu bukan berarti full control. Tadi Mbak Isa sudah jelaskan gitu. Dan poinnya saya di sini menekankan bahwa ini kalau tidak
hati-hati Presiden Trump ini bisa eskalatif gitu loh. Nah, kalau 2 minggu ke depan ya rezim belum berubah dan eh militer Amerika juga beberapa kali akan eh being shutdown apa yang terjadi? Nah, kalau kalau dari cutl pers Amerika cutl-nya adalah dudukin saja Balukistan dudukin Balukistan ya dan jadi Balukistan minta negos itu dinetralkan lagi ya kembali kepada kondisi awal sebelum konflik. dan Amerika cabut dari situ tanpa kehilangan muka gitu. He. Kecuali kalau mau diterusin enggak apa-apa diterusin lagi jadi perang
dunia, perang regional dan perang dunia. Dan akan ada order baru yang terbentuk di dunia ini. Karena ini tidak lepas kalau kita lihat dari sistemic level tidak lepas dari persaingan antara ruling power Amerika melawan rising power, China, Asia, dan siapapun yang against Amerika baik secara ideologi dan geopolitik gitu loh, Pak. Nah, Pak Wibawa kalau kita melihat apa yang sudah dilakukan AS sejauh ini, apa yang menimpa AS juga baru-baru ini, ee Anda mengkalkulasi strategi yang dilakukan AS sejauh ini ke depannya apa? Apakah benar
akan menurunkan apa ya, invasi darat itu akan dilakukan dalam waktu dekat? Nah, saya sekolah militer di Amerika, Mbak. di University banyak yang terjadi sekarang itu tidak sesuai dengan teori yang saya pelajari gitu. Banyak jenderal senior Amerika juga mundur dari panglima tradoknya ee kasatnya dan juga lain-lain. Bahkan kepala rohaninya juga mundur, ciplinnya juga mundur gitu. Nah, jadi ini ada masalah jalan just at belum just in bow. Kenapa perang dilaksanakan? Bagaimana perang dilakukan? Nah, sekarang yang
paling minim ya resikonya adalah serang itu cak island bukan diduduki. Kalau diduduki itu butuh lagi proses untuk membersihkan coostal defense ya dan kemampuan serangan balik pada saat pasukan akan deploy ke sana. Itu risiko. Serang aja dari jauh itu satu. Tapi itu juga controlable. Selain controlable tapi ada risiko juga bisaatif. Yang kedua, perang laut aja di hormus. Hm. Itu juga sangat berisiko. Beresikonya apa? harga harga e per barel oil tuh akan 0 paling enggak nanti ya akan menjadi chaotik dan itu akan menjadi
regional war karena pasti super power yang lain great power yang lain terlibat dan pasti proksi-proksi Iran akan melawan dan yang diserang juga negara-negara lain. Ini yang disebut regional security complex Timur Tengah dalam kondisi sangat rentan dan cenderung mengarah kepada eskalative war. Yang ketiga adalah serang mainland. Kalau ada serang mainland berarti Amerika secara big picture itu sudah terdistract Pak. Karena major theater war-nya itu di Cina, bukan di Iran gitu. Di Iran itu hanya untuk containment,
kondisi-kondisi kontingsi Middle East yang dihadapi bersama dengan NATO dan aliansi eh Arab Suni di situ dan bersama Israel. Nah, jadi kemampuan Amerika hadir di Middle East, di Indo Pacific Command, di Northern di Northern Amerika untuk mengamankan homeland defense mereka sendiri dan juga di Eropa itu sifatnya hanya untuk existence dan operasi terbatas. Tapi kalau sampai deploy 500.000 RB pasukan invasi darat di Iran sudah pasti bolong di mana-mana nanti, Mbak. Gitu. Dan itu akan ditentang habis pasti oleh domestik
politik di dalam Amerika. Enggak mungkin. Tapi tapi Pak Wibawa di sisi lain kalau misalnya memang langkah yang diambil Trump adalah semakin dialasi Iran itu sejauh ini sudah menunjukkan kemampuan terbaik atau masih ada apa ya kemampuan yang masih ia simpan? Yang pasti apa yang Iran lakukan sekarang adalah hasil persiapan selama 40 tahun terakhir, 47 tahun dan juga 40 tahun terakhir khususnya setelah perang Iran Irak. Yang kedua ya kemampuan yang dikeluarkan oleh Iran ini itu akan semakin well shaped. Itu bahasanya tuh
semakin well shaped. Jadi karena mereka sudah terbentuk sedemikian rupa mozaic defense-nya dan juga di balik layar juga didukung oleh great powers lainnya. Kita harus terusang bicara seperti itu ya. kemampuan perang yang ada sekarang itu sudah semakin akan menambah moral, dukungan moral. Dan yang kedua juga akan ee memberikan yang namanya itu adalah penguasaan momentum dan juga geografis dan juga yang penting adalah dukungan 80 juta rakyat Iran. Semakin Presiden Trump dan Washington mengeluarkan kata-kata
yang tidak simpatik, semakin juga walaupun mereka tidak suka dengan rezim yang kemarin, mereka juga bukan berarti jadi mau mendukung gitu loh, Mbak. Jadi sekarang sebenarnya Presiden Trump harus tahu bahwa center of gravity dari regim chance itu bukan fisik itu sendiri gitu loh, tetapi harus menguasai emosi, sikap tindak, opini, motivasi rakyat Iran yang membutuhkan waktu. Nah, dengan situasi ini berarti menurut Anda ruang diplomasi masih terbuka enggak? Masih negosiasi masih ada. Masih mungkin
itu. Masih mungkin masih mungkin. Tapi Presiden Trump sekarang harus disiplin menjalankan apa yang disebut dengan intelligence l policy. Jadi harus benar-benar strictly mengikuti apa yang menjadi saran inteligence yang objektif. Itu poinnya Mbak. Melihat karakter Trump itu mungkin dilakukan. Nah, itu mungkin karena gini dalam interasal politics perang itu dipengaruh oleh tiga faktor, Mbak. Yang pertama adalah kondisi di dalam ee lingkup global, ya. Oke. Tekanan ada sekarang itu untuk mementingkan perang. Kalau
enggak bisa jadi perang dunia. Itu satu. Yang kedua, domestik politik yang sudah dua per3 menentang perang ini, gitu loh. Dan juga mid eleknya sudah dekat. Yang ketiga, Presiden Trump sendiri itu kan masih di dalam negara demokrasi. Walaupun beliau mencoba memperlebar ruang geraknya sebagai presiden, itu terdapat tujuh aturan besar dalam presidensi di Amerika yang membuat presiden di Amerika itu kelihatan powerful keluar. Tapi sebenarnya gerakan di dalam itu begitu banyak sekat-sekat yang akan mengekang mereka.
Demokrasi itu 10 tahun, 15 tahun terakhir Presiden Amerika berusaha memperluas itu. Tetapi enggak semudah itu, Mbak, gitu loh. Oke. Nah, kalau misalnya sinyal negosiasi sebenarnya masih ada, tapi sebenarnya kondisi apa yang akan bisa betul-betul memaksa semua pihak untuk e menghentikan perang ini? Apakah ekonomi akan jadi faktor utama? Ya, iya betul. Kalau saya jadi menteri perangnya Amerika, saya akan menyarankan Presiden Trump ambil Bazalukistan sebagian duduki di situ. Nah, kemudian ajak Balukistan untuk pisah dari dari
Iran begitu. Dan setelah itu jadikan itu leverage untuk minta Hormus kembali diburka Balukisan dikembalikan kepada Iran dan dialasi dan silakan kembali lagi kepada perang sebelum eh tahap SAT kemarin yaitu perang proxi atau perang inteligen atau political warfare yang berlangsung selama 47 tahun terakhir yang di mana memang melalui proksi-proksinya banyak sekali warga negara Amerika yang tewas selama 47 tahun terakhir gitu loh. Kenapa harus kenapa harus Balikistan ya? Karena Balukistan itu kan yang
paling mungkin didekati, dimasuki di oleh Amerika karena posisinya di tenggara dan dekat dengan Pakistan. H itu kan kemarin dijelaskan juga oleh Pak Sharki itu. Itu bagus tuh penjelasannya itu. Benar tuh. Jadi dan rakyat di situ itu juga punya masalah dengan Tehran dengan pusat. Mereka sudah lama juga pengin pisah gitu dan mereka dekat dengan Pakistan. Bahasanya juga bahasa Pakistan dan juga harus diingat mereka Sun gitu. Nah, jadi itu aja di situ akhirnya itu menjadi leverage untuk Hormus dibuka setelah itu dikembalikan
kepada Iran. Nah, silakan perangnya itu kembali lagi kepada mod yang sebelumnya. Tetapi pasti akan lebih eskalatif ya karena rakyat sudah dilukai sekarang dan Amerika juga merasa sudah dilukai. Israel juga merasa ini eksistensial buat mereka. Nah, kalau tidak mau itu ya perang dunia, Mbak gitu loh. Perang dunia karena ada order baru. Nah, kalau realis itu mengatakan kenapa ada perang? Karena ada balance of power yang tidak beres, belum. Oke. Kan tidak ada yang mengharapkan perang dunia itu sampai tercapai. Tapi
kalau menurut Anda e wibawa setelah ee ini apa ya? Setelah rangkaian sudah terjadi masuk minggu kelima pesawat jatur AS sudah bisa ditembak oleh Iran. Dalam waktu dekat apa yang masih akan terjadi? Apa yang harus kita semua antisipasi? yang harus diantisipasi untuk Indonesia itu yang pertama Indonesia harus netral dan menjaga stabilitas dan ketahanan nasional. Harus bisa engage semua aktor yang terlibat tanpa menimbulkan konflik dengan siapapun. Yang kedua, kita juga harus eh mengamankan eh kemampuan maritim
detection kita karena bisa saja konflik ini melebar dan masuk ke wilayah Indo Pasifik. H. Nah, yang ketiga, kita tetap saja mengirimkan pasukan PBB kita ke daerah konflik karena itu sudah komitmen kita sebagai anggota PBB. Dan sekarang kita harus menerima realita bahwa TNI-TNI yang bertugas di wilayah konflik ini bukan hanya untuk menjalankan peace keepeping, tapi peace enforcement, Pak. Dan wilayahnya adalah aktif. Kita enggak boleh mundur dari sini. Nah, kita harus stap objektif, kita harus determinan
untuk ikut menjaga keamanan dunia melalui apa yang kita mampu. Dan untuk kita membaca logika perang saat ini, kita tidak bisa memaksakan hanya dari point of view Indonesia sebagai middle power. Kita harus pahami eh point of view dari apa yang ada di Timur Tengah. semuanya fenomena yang ada antara Persian, Jewish, dan juga Arab. Kita juga harus memahami cara pikir great powers ya, yang mana pendekatnya adalah offensive realis. Ini ada persaingan antara ruling power melawan rising power. Di mana 500 tahun terakhir
sejarah membuktikan 75% atau 16 interaksi itu 12 berakhir dengan perang terbuka, empat tidak terbuka gitu. Jadi kita harus siap dengan probability itu. H dan kita harus kompak ke dalam gitu, Mbak. Oke, netral tapi memperkuat kekuatan maritim dan juga militer kalau gitu. Oke, poinnya sudah kami tangkap. Pak Wibawanto Nugroho Widodo, PhD, pakar politik dan keamanan nasional. Terima kasih. Tadi juga sempat ada Mbak Is Kusuma Sumantri, peneliti senior Indo Pacific Strategic Intelligence sudah berbagi bersama kami. Pak Wibawa selamat
petang. sehat selalu.
Komentar